Qaulan Sadida

Tulisan Enteng Berisi untuk Pribadi yang Lebih Baik

PENTINGNYA MINDSET (WORLDVIEW) DALAM MENGHADAPI BERBAGAI PERSOALAN

Tinggalkan komentar

Telah banyak rentetan peristiwa provokasi yang menyita perhatian dan menyulut emosi. Sebagian muslim seringkali tidak memperhatikan aspek kesabaran dan bertabayyun dalam memberikan reaksi. Sehingga bisa memicu terjadinya tindakan anarkis yang membahayakan.

Sekedar memberikan gambaran untuk mengingatkan berbagai peristiwa di antaranya:

  1. Pembakaran Al-Qur’an
  2. Pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW
  3. Tuduhan Teroris
  4. Tuduhan Intoleran
  5. Isu gender dan ketidakadilan
  6. Penerbitan buku yang menghina Nabi Muhammad SAW, ajaran Islam, dll.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menanggapi peristiwa-peristiwa di atas. Namun secara sederhana ingin menyampaikan penekanan pada pentingnya mindset atau worldview dalam menanggapi berbagai berita baik di dunia nyata, dunia maya, maupun di media massa. Sehingga setiap muslim dapat menyikapi dengan bijak serta memberikan tanggapan atau serangan balik dengan santun. Dengan demikian, provokator di balik munculnya berita akan gigit jari.

Sebagai sajian pembuka, terdapat dalil dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menerangkan tentang pentingnya mindset atau worldview.

Firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat: 7.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Hadits riwayat Abu Dawud.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Artinya:

Abdurrahman bin Ibrahim ad-Dimasyqi telah menceritakan kepada kami, Bisyr bin Bakr telah menceritakan kepada kami, Abu Abdussalam telah menceritakan kepadaku, dari Tsauban ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja umat manusia mengerubuti kalian sebagaimana mengerubuti makanan di piring. berjumlah banyak, tetapi (bagai) buih, seperi buih air bah. Dan Allah benar-benar mencabut rasa takut dari musuh kalian terhadap kalian, dan menyusupkan ke dalam dada kalian wahn”. Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati”. (Sunan Abu Dawud: 4297).

Berawal dari ayat dan hadits di atas, untuk me-mindset (mengubah pola pikir), pertama kita harus menyadari beberapa hal sebagai berikut.

  1. Tahu diri/ tahu posisi Islam saat ini

Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami posisi umat Islam saat ini. Permusuhan terhadap Islam tidak akan berhenti sampai akhir zaman. Justru dari konsep ini muncul perintah berjihad. Selain dari peristiwa-peristiwa yang begitu nyata permusuhannya, permusuhan ini bukan hanya klaim sepihak. Akan tetapi musuh ingin memecah belah kesatuan umat Islam dengan berbagai cara. Sehingga misi musuh-musuh Islam dapat dilancarkan tanpa membuang banyak tenaga. Banyak muslim yang terpengaruh propaganda sesat sehingga tanpa sadar, sesama muslim bisa saling berperang hanya karena berbeda pendapat.

  1. Tahu yang diinginkan musuh terhadap Islam

Umat Islam adalah ummatan wasathan, khaira ummah, serta rahmatan lil ‘ālamīn. Untuk memporak-porandakan barisan Islam, musuh-musuh Islam telah mempersiapkan segala rencana dan perangkapnya dengan memunculkan berita dan wacana negatif tentang Islam ke seluruh penjuru dunia. Semua ini dimaksudkan untuk membenarkan pendapat mereka bahwa Islam sebagai umat intoleran, agama kekerasan (baca: teroris), bahkan lebih keji lagi dengan menghina Nabi Muhammad SAW secara terang-terangan.

Seluruh muslim sepakat bahwa semua tindakan itu adalah melecehkan kehormatan Islam. Berdasarkan dalil Al-Qur’an Surat al-Hujurat: 7, seorang muslim disyariatkan untuk bertabayun untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Jika misi mereka sudah diketahui, maka hal-hal semacam ini dapat disikapi dengan bijak dan santun, sehingga umat Islam tidak masuk ke dalam perangkap mereka.

Sebagai penyeimbang, sudah seharusnya setiap muslim berkaca pada diri sendiri untuk introspeksi:

  1. Tradisi keilmuan umat Islam jauh dari risalah kenabian dan manhaj yang lurus sehingga jauh tertinggal dari umat yang lain. Tak dapat dipungkiri, banyak musuh Islam yang mempelajari Islam untuk meracuni umat Islam dari dalam. Mencari-cari kesalahan umat Islam untuk memecah-belah jamaah. Bahkan ada cendekiawan yang mengaku muslim dengan membangga-banggakan keilmuan baratnya dengan angkuh “memperkosa” syariat. Akibatnya muslim awam yang menjadi korban.
  2. Al-Qur’an yang dibawa Rasulullah SAW beserta sunnahnya telah mengilhami para pembacanya baik dari kalangan shahābat, tābi’īn, atbā’ut tābi’īn hingga sampai kepada para pemikir Islam (baca: ulama) untuk mengambil hikmahnya yang kemudian diterapkan dalam berbagai hal di antaranya akidah dan filsafat, logika dan mantik, hukum, iptek, ekonomi, keluarga, dll.

Kedua sumber utama Islam ini menelurkan hikmah, pelajaran, dan peradaban yang tiada habisnya. Namun, semuanya kembali kepada pemegangnya. Akan diapakan kedua pusaka tersebut. Akankah diimani, dibaca, ditadabburi, untuk kemudian diamalkan menjadi pedoman hidup ataukah hanya sebagai hiasan lemari, dinding, bahkan jimat? Atau bahkan akan dihujat, dicerca, dan dibakar?

  1. Allah SWT telah memberikan contoh, hikmah, dan teladan dari umat terdahulu. Bagaimana kesudahan umat yang taat kepada Allah SWT dan Nabi-Nya dan bagaimana pula kesudahan umat yang membangkang kepada Allah SWT dan membunuh Nabi-nabi mereka. Kini muncul kembali para pendengki dari musuh Islam dengan membuat karikatur dan film yang menghina Rasulullah SAW.

Dengan memahami kondisi dan posisi Islam saat ini serta menelaah apa misi mereka, maka hal yang demikian itu malah menunjukkan kebodohan mereka terhadap kebenaran Islam. Bukankah apa yang mereka gambarkan hanyalah gambaran kedengkian mereka sendiri yang tidak bisa mengelak bahwa gambar idola atau Tuhan mereka sendiri tidak jelas karakter dan sifatnya? Subhānallāhi ‘ammā yusyrikūn.

Berbicara mindset atau worldview, tentu bukan urusan mudah karena terbentuk dalam proses yang tidak sebentar. Namun demikian, bukan berarti sebagai generasi muslim menjadi pasif, namun perlu dipahami bahwa dunia tidak lepas dari visualisasi (image makes news). Dari sinilah orang menjadi mudah untuk menilai sesuatu.

Sebagai seorang muslim yang berilmu, sudah sewajarnya berlaku arif dan bijaksana dalam menyikapi berbagai berita. Jika itu lebih mengarah kepada provokasi, hendaknya disikapi dengan mendahulukan hujjah yang nyata serta argumentatif. Sehingga umat Islam terhindar dari efek provokasi yang sering kali menyulut emosi dan tindak anarkis. Bisa jadi hal yang demikian itu dimunculkan semata untuk mencari sensasi sesaat dan buah bibir di masyarakat. Ketika reaksi umat berlebihan, secara tidak langsung telah mengangkat persoalan tersebut ke permukaan.

Hari Raya Idul Adha sebentar lagi akan tiba. Banyak amalan-amalan yang utama dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Mari perkaya diri dengan khazanah Islam untuk membentengi diri sekaligus menjadi umat kebanggaan Nabi Muhammad SAW.

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am: 68)

Wallāhu a’lam bish shawab.

Penulis: Ahmad Afandi

Saya seorang lelaki yang gemar berorganisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s